Senin, 12 Desember 2011

Kepemimpinan Wanita dalam Perspektif Sosiologi Terapan

0


Sebagai individu atau tepatnya sebagai suatu pribadi, manusia tidak akan bisa hidup dan berkembang berdasarkan kemampuan dirinya semata. Dia membutuhkan lembaga-lembaga sosial, dia membutuhkan masyarakat dan negara. Dia membutuhkan sistem nilai dan ideologi yang menjadi pedoman dan tujuan hidupnya sebagai warga dari suatu negara. Begitu pula sebaliknya, proses hidupnya sebagai pribadi ikut memberi bentuk pada lembaga-lembaga sosial, sistem nilai, dan ideologi yang bersangkutan. Dengan ini ingin di tegaskan , bahwa makhluk sosial itu pun berhakikat politis. Maka manusia pun disebut mahluk politis, dia adalah pribadi yang memasyarakat atau menegara, artinya, dia adalah pelaku kehidupan masyarakat dan negarenya. Dalam hal ini dia memiliki hak dan kewajiban sebagai warga masyarakat atau warga dari suatu negara
Demokrasi merupakan sebuah istilah yang sangat populer. Tidak ada istilah lain dalam wacana politik yang banyak dibicarakan orang-aktivis, politisi ataupun akademisi-melebihi istilah demokrasi. Istilah ini juga selalu didambakan orang terutama, terutama yang mempunyai kesadaran politik.Demokrasi memberi penghargaan yang setinggi tingginya kepada rakyat, memberi peluang kepada mereka untuk ambil peran dalam diskurusus pembuatan kebijakan publik.
Banyak hal yang terkait dengan ekonomi yang menyebabkan perempuan tk diakui perannya karena kiprahnya hanya diseputar ekonomi keluarga dan rumah tangga, masih sedikit pengakuan pada kaum perempuan kerika mereka sukses dan berhasil menjadi pelaku ekonomi karena dilakukan oleh laki-laki. Kiprah laki-laki di dunia ekonomi diakui karena mereka bisa masuk pada level penentu kebijakan dan duduk pada jabatan-jabatan strategis di kantor-kantor yang terkait dengan perekonomian. Sementra wanita belum banyak yang menduduki level tersebut, akibatnya kegiatan perempuan dibidang ekonomi yang terpusat pada sekitar keluarga dan dirinya sendiri, meskipun menghasilkan bahkan menjadi penunjang hidup keluarga, tak diakui dan hanya dianggap sebagai pekerja sambilan.
Banyak hal yang mencerminkan ketimpangan di bidang ekonomi seperti wanita dianggap lebih rendah dari pada laki-laki untuk tanggung jawab yang sama besar,karena wanita dianggap lajang, bukan kepala keluarga. Wanita belum diakui sebagai pekerja profesional. Konsep wanita sebagai ibu dan istri mengalami perluasan kesektor publik yang seharusnya menghargai profesionalisme. Wanita  sebagai obyek masih menapatkan penekanan saat mereka terlibat dalam bidang publik, padahal wanita sudah mampu memainkan peran sebagai subyek dalam berbagai proses ekonomi. Sektor publik tampak belum disiapkan untuk menerima kehadiran wanita dengan semestinya. Hal ini memaksa wanita untuk selalu berusaha menjadi laki-laki di dunia kerja. Dia harus bersaing ketat dengan rekan sesama kerja yang tidak saja laki-laki tetapi juga wanita. Dia tidak hanya bisa menjadi ibu dan istri tetapi juga harus menunjukkan bahwa dia juga bisa menjadi pekerja yang profesional. Karena rekan kerjanya yang laki-laki belum bisa menerima kehadiran ibu rumah tangga di dunia kerja. Kalaupun sudah, pasti masih dianggap pekerja kelas dua yang berbeda dengan laki-laki. Dia harus mengatur waktu sedemikian rupa sehingga dia merasa tidak menyalahi kodrat sebagai perempuan. Kodrat wanita ini juga terus dipoduksi dalam diskursus diskursus sehingga wanita menjadi semakin terbelenggu dan terkakang dengan slogan dan harapan yang ada dalam masyarakat.
Gejala ketrlibatan perempuan ke luar rumah untuk bekerja, menandakan bahwa wanita telah berusaha merekontruksi sejarah hidupnya, dengan membangun identitas baru bagi dirinya, tidak hanya sebagai isti atau ibu, tetapi juga sebagai pekerja dan wanita karier. Namun demikian dalam keterlibatan semacam ini,bukan tanpa biaya, wanita harus mengeluarkan banyak biaya yang tidak disadari untukmemasuki dunia kerja.
wanita yang bekerja yang menyandang banyak beban akan berimplikasi terhadap segala aspek kehidupannya. Sudah pasti ketika dia bekerja akan ada pergeseran-pergeseran peran dalam kehidupan rumah tangganya. Akan terjadi evolusi dalam rumah tangganya. Dari seorang wanita yang dianggap selalu berada dirumah tiba-tiba harus keluar rumah bekerja, tentu ada situasi yang memerlukan diskusi lebih jauh. Pengaruh sebagai perempuan yang punya penghasilan tersendiri juga perlu pemahaman yang menyeluruh, karena dibanyak kasus ternyata kemampuan ekonomi
Rumusan Masalah
            -Bagaimana kepemimpinan indonesia dalam perpektif politik?
            -Kepemimpinan wanita seperti apa yang di butuhkan oleh indonesia?
            -bagaimana perpektif masyarakat terhadap kepemimpinan wanita?

Teori
  1. Teori gender
·         perbedaan peran, fungsi, dan tanggungjawab antara laki-laki dan perempuan yang merupakan hasil konstruksi sosial dan dapat berubah sesuai dengan perkembangan jaman.
2.      Teori fungsionalisme Struktural
Oleh Emile Durkheim
·         Memandang masyarakat (modern/organis) terdiri dari beberapa bagian yang masing-masing mempunyai fungsi sendiri. Jika semua bagian menjalankan fungsinya masyarakat dalam keadaan normal, jika tidak maka dalam keadaan abnormal.
3.      Teori konflik
Oleh Lewis A. Coser
·         Fungsi konflik
Ø Konflik memiliki konsekuensi positif yang membantu mempertahankan sistem sosial(ketahanan dan adaptasi)
Ø Konsep penting in-group vs out grou, katup penyelamat, konflik realistis dan konflik non realistis
4.      Teori politik
·         memiliki dua makna: makna pertama menunjuk teori sebagai pemikiran spekulatif tentang bentuk dan tata cara pengaturan masyarakat yang ideal, makna kedua menunjuk pada kajian sistematis tentang segala kegiatan dalam masyarakat untuk hidup dalam kebersamaan.
                                                                                                                                                                                                                                                                             
Kepemimpinan Indonesia
Kelahiran republik di Indonesia di awali dengan penyataan kenerdekaan Indonesia kepada dunia pada 17 Agustus 1945 oleh Soekarno dan Hatta. Dalam kepemimpinan, presiden mempunyai masa jabatan lima tahun, dan dapat dipilih kembali untuk masa jabatan lima tahun lagi, maksutnya dapat dipilih kembali untuk masa lima tahun berikutnya saja. Sehingga, seorang presiden hanya menduduki kursi kepresidenan paling lama sepuluh tahun. Dengan adanya pembatasan jabatan presiden diharapkan dapat meningkatkan kualitas demokrasi di Indonesia.
Perjajanan politik masyarakat dan bangsa Indonesia menunjukkan kecenderungan yang sangat kuat bahwa birokrasi merupakan instrumen politik yang sangat efektif yang di bangun oleh sebuah guna membesarkan dan mempertahan kekuasaan yang sudah ada. Hal itu sebenarnya bukanlah sesuatu yang baru, karena pola-pola pemanfaatan birokrasi sebagai instrumen politik regim terjadi sejak masa pemerintahan kolonial. Pada masa pemerintahan kolonial, kalangan “pangreh prajamerupakan instrumen kekuasaan pemerintahan, baik pemerintahan kerajaan ataupun pemerintahan kolonial.
Kepemimpinan Wanita
Persamaan laki-laki dan wanita dalam kontak biologis sama sama mendapatkan orgasme perbedaannya hanya pada kecepatannya laki-laki cenderung dapat sulit dan memakan waktu lama, setelah melakukan hubungan, laki-laki tidak hamil sedangkan wanita mengalami kehamilan dan melahirkan anak. Pada masa ini, wanita banyak merasakan penderitaan. Dari realitas-realitas biologis ini, terpikirkan peran mereka dalam memenuhi kebutuhan kehidupan, bagaimana posisi mereka yang seharusnya dalam memenuhi kebutuhan hidup akibat kontak biologis, diantara mereka ada yang mewajibkan hidup akibat orang yang bertanggung jawab terhadap kehidupan keluarga, kalau wanita juga dibebani tanggung jawab material, barangkali tidak adil, mereka sama mendapatkan kenikmatan seksual dan anak,tetapi wanita yang merasakan penderitaan lewat kehamilan dan kelahiran.
Barangkali dari pemikiran ini lahir pemeranan kepribadian, pengetahuan lapangan kerja dan peran wanita berpikirnya maka lahirlah pola pandangan tentang peran wanita di masyarakat. Tiap-tiap penempatan peran senantiasa bersandar   pada hukum realitas, kenyataan riel tentang
keadaan biologis antara laki-laki dan wanita, bedanya hanya    pada tingkat perbedaan melihat realitas biologisnya dan pada sosialisasi peran, ada yang menerima pembaruan dan lainnya tidak menerima perubahan. Sekarang ini ada kecenderungan pada kaum wanita untuk membongkar peran-peran wanita yang dipandang sebagai warisan budaya/tradisi sebagai hal yang kolot dan bersifat penindasan, tanpa menilaisejauh dapatkeluar dari sifat dasarnya, seperti keadaan kaum
wanita barat. Diantara mereka ada yang membedakan peran laki-laki dan wanita di masyarakat lewat pendekatan emosi, kekuatan, kecerdasan yang dipandang memiliki perbedaan secara alamiah dan tingkat kemajuan masyarakat.  Memperhatikan potensi dasarnya dan realitas rielnya, bilamana mereka memiliki potensi yang berhubungan dengan syarat umum seorang pemimpin politik, ia dipandang memiliki potensi.
Wanita berhak terjun langsung dalam dunia politik, tidak ada penghalang bagi kaum wanita untuk memiliki kekuasaan dan wewenang. Mereka memiliki hak yang sama dengan kaum laki-laki untuk berkiprah di dunia berpolitik. Tentu saja indonesia menginginkan pemimpin yang adil, tegas dalam segala urusan dan memiliki tujuan untuk membangun agar negara Indonesia mampu memperbaiki diri untuk menjadi yang lebih baik.
            Dampak perubahan pada pekerjaan kaum wanita (dan kaum pria) sering kali negatif. Namun, kaum wanita telah berusaha secara aktif untuk mengambil manfaat dari kesempatan-kesempatan nyata untuk maju.
pendapat yang mengatakan bahawa keterlibatan kaum wanita dalam arena politik dipandang tidak layak dan melanggar fitrah keperempuanannya (kewanitaannya) kerana menurut mereka politik itu sama dengan kekerasan, kekuasaan, kelicikan dan tipu daya yang hanya sesuai menjadi milik kaum lelaki
 karakter feminin yang lemah lembut, emosional, mudah mengalah, seakan-akan ingin meyakinkan bahawa tugas tersebut sesuai untuk seorang perempuan yang bergelar isteri, ibu atau pengurus rumah tangga. Pandangan seperti inilah yang menyebabkan Muslimah tidak mahu berpolitik, sehingga kehidupan mereka hanya berputar sekitar memenuhi keperluan diri sendiri dan melakukan kegiatan dalam urusan peribadi, anak dan keluarganya. Mereka sama sekali tidak mahu menoleh, bahkan tidak peduli terhadap apa yang berlaku di sekeliling mereka.
Sementara di pihak lain pula mengatakan bahawa wanita mesti ikut serta berperanan aktif dalam segala bidang, sama dengan kaum lelaki, termasuk dalam bidang politik, walaupun kegiatan politik mereka sentiasa diarahkan kepada usaha meraih peluang sebesar-besarnya untuk duduk di atas kerusi legislatif.
Indonesia membutuhkan kepemimpinan wanita yang tangguh. Dengan ini para wanita memiliki kesempatan dan mengungkapkan kepada dunia bahwa wanita itu bukan makhluk lemah, wanita juga mampu berkiprah seperti pria. Seorang pemimpin wanita juga diharapkan dapat mengemban tugasnya dengan baik, berani bertanggung jawab terhadap tugas yang telah diemban sebagai seorang pemimpin.
perpektif masyarakat terhadap kepemimpinan wanita
            kepemimpinan perempuan di Indonesia dulu memang masih di anggap tabu oleh masyarakat. Tetapi dengan berjalannya waktu wanita mampu membuktikan bahwa wanita juga mampu dan bisa untuk menjadi pemimpin yang baik. Mereka mampu menjalankan tugasnya engan baik dan dengan profesional tanpa harus meminta belas kasihan kepada orang lain. Mereka dapat membuktikan bahwa mereka bisa sejajar dengan kaum pria bahkan lebih. Mereka tidak hanya belajar untuk melatih kekuatan pribadi mereka, mereka juga sudah sanggup mengesampingkan emosi mereka di situasi yang membutuhkan penilaian yang jelas. Mereka bukannya tidak emosional, tapi mereka telah belajar memahami diri dan mengendalikan perasaan mereka.
            Kesempatan perempuan untuk untuk masuk dalam bidang politik sebenarnya ada dan memungkinkan, namun karena berbagai faktor hal itu jarang terjadi. Faktor utamanya adalah pandangan stereotip bahwa dunia politik adalah dunia publik, dunia yang keras , dunia yang memerlukan akal, dunia yang penuh debat, dan dunia yang membutuhkan pikiran-pikiran cerdas, yang kesemuanya itu diasumsikan milik laki-laki bukan milik wanita. Wanita tidak pantas berpolitik kaena wanita adalah penguni dapur  atau domestik, tidak bisa berpikir rasional dan kurang berani mengambil resiko, yang kesemuanya itu sudah menjadi stereotip wanita. Akibatnya baik wanita atau laki-laki dan masyarakat secara umum sudah menarikkutub yang berbeda dunia publik milik laki-laki dan dunia domestik milik wanita.
            Akibat ketimpangan-ketimpangan gender dalam sosial budaya mengakibatkan jumlah wanita  yang mencapai jenjang pendidikan yang lebih tinggi lebih sedikit dibandingkan laki-laki, akibatnya karena wanita  tak mempunyai pengetahuan yang memadai maka dia tidak bisa berkiprah dalam dunia politik. Selain itu pemahaman politik di kalangan wanita juga masih rendah, mengingat dunia politik adalah milik liki-laki maka masyarakat memandang tidak perlu memberi pemahaman politik pada kaum wanita. Wanita hanya di butuhkan dibidang politik jika kaum laki-laki atau politikus akan meraih suatu posisi puncak atau jabatan politik tertentu. Wanita digunakan sebagai martir  (dikorbankan) atau untuk senjata  untuk mencapai tujuan.
            Di Indonesia kita bisa mencermati  naiknya  Megawati sebagai presiden, pertama  dia ditolak meskipun sebenarnya dia merupakan pemimpin partai pemenang pemilu dengan berbagai alasan  yang tidak masuk akal bahkan menggunakan dalil-dalil agama yang dipolitisir untuk menghambat naiknya Megawati. Kemudian pada tahap berikutnya dia dijadikan presiden hanya untuk mengisi kekosongan dan ternyata hanya sebagai boneka para pelaku politik yang kesemuanya adalah laki-laki. Para ulama dan para lawan politik yang dulu menentang mati-matian naiknya Megawati  dengan menggunakan dali-dalil agama sekarang menjadi pendukung setianya. Terlepas bagaimana kepemimpinan Mega sebagai presiden yang jelas dia diangkat sebagai kepala partai bukan karena kepandaian berpolitiknya  melainkan karena dia anak Soekarno yang kharismatis. Diharapkan Mega akan mewarisikharisma bapaknya.
Analisis menggunakan teori gender

Adanya perbedaan perempuan dan laki-laki pada hakikatnya adalah hasil konstruksi sosial budaya sehingga menghasilkan peran dan tugas yang berbeda. Perbedaan tersebut menyebabkan perempuan selalu tertinggal dan terabaikan peran dan konstribusinya dalam hidup berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Perjuangan untuk persamaan dipelopori oleh orangorang yang konsen memperjuangkan kesetaraan perempuan dan laki-laki (kaum feminis) yang cenderung mengejar  kesamaan yang kemudian dikenal dengan istilah kesamaan kuantitas . Perjuangan tersebut sulit dicapai karena berbagai hambatan, baik dari nilai agama maupun budaya. Karena itu untuk mencapai tujuan tersebut,dibuatlah program khusus  guna memberikan peluang bagi pemberdayaan perempuan yang kadangkala berakibat timbulnya reaksi negatif dari kaum laki-laki karena apriori terhadap perjuangan tersebut.
Pada hakikatnya, untuk mengembangkan dan mematangkan berbagai potensi yang ada pada diri perempuan dapat memanfaatkan hak dan kesempatan yang sama dengan laki-laki sebagai sumber daya pembangunan. Namun hingga kini masih dirasakan ada kesenjangan gender atau bias gender dalam berbagai sektor pembangunan sehingposisi dan kondisi kaum perempuan belum setara dengan kaum laki-laki.

Analisas menggunakan teori fungsionalisme Struktural.
            Seperti yang di ungkapkan oleh Emile Durkheim yang memandang masyarakat (modern/organis) terdiri dari beberapa bagian yang masing-masing mempunyai fungsi sendiri. Jika semua bagian menjalankan fungsinya masyarakat dalam keadaan normal, jika tidak maka dalam keadaan abnormal.
            Sebuah negara dapat berjalan dengan baik jika pemimpinnya dapat melaksanakan tugasnya dengan baik, tidak memandang pemimpin itu laki-laki ataupun wanita. Pemimpin wanita juga dapat mengatur rakyatnya dengan baik jika memang dia memeliki kinerja yang baik dan berkeinginan untuk mensejahterakan rakyatnya. Begitupun rakyat, pemimpin dapat melaksanakan tugasnya dengan lancar jika rakyat ikut berpartisipasi membantu negaranya agar menjadi negara yang lebih sejahtera .Tidak ada negara yang pemimpin dan rakyatnya berjalan sendiri-sendiri melainkan keduanya saling bekerjasama dan berpartisipasi untuk membangun keejahteraan yang dibutuhkan oleh semua masyarakat.
Didalam sebuah negara harus ada kesatuan antara fungsi-fungsi yang saling berkaitan untuk melaksanakan tugas negara supaya mendapatkan hasil yang lebih maksimal. Jika fungsi-fungsi dalam negara tersebut tidak bisa dijalankan bersama-sama maka negara dalam keadaan yang tidak diinginkan dan dapat berakibat konflik.

Analisis menggunakan teori konflik.
Stereotip bahwa dunia politik adalah dunia publik, dunia yang keras , dunia yang memerlukan akal, dunia yang penuh debat, dan dunia yang membutuhkan pikiran-pikiran cerdas, yang kesemuanya itu diasumsikan milik laki-laki bukan milik wanita. Wanita tidak pantas berpolitik kaena wanita adalah penguni dapur  atau domestik, tidak bisa berpikir rasional dan kurang berani mengambil resiko, yang kesemuanya itu sudah menjadi stereotip wanita. Akibatnya baik wanita atau laki-laki dan masyarakat secara umum sudah menarikkutub yang berbeda dunia publik milik laki-laki dan dunia domestik milik wanita.
Dulu indonesia sangat menentang kepemimpinan seorang wanita, tetapi wanita dapat membuktikan bahwa wanita indonesia juga dapat berkarya seperti laki-laki bahkan lebih. Disini konflik bukan berarti kekeasan fisik melainkan pertentangan keras tentang kepemimpinam wanita yang pada akhirnya wanita dapat sejajar dengan laki-laki.

Analisas menggunakan teori politik.
            Wanita yang menjadi seorang pemimpin dapat meningkatkan hasil yang lebih baik dari sebelumnya dan memiliki prestasi kerja yang lebih baik pula, sehimgga seorang pemimpin wanita akan diakui kepemimpinannya oleh baeahan maupun orang lain karena kemampuan memimpin yang baik. Wanita yang mampu bertindak sebagai pemimpin, memiliki sifat ganda baik sebagai wanita yang feminim maupun memiliki kekuatan berupa, tegar, tegas mampu mengambil keputusan yang tepat seperti halnya dilakukan laki-laki













Daftar Pustaka
Gaffar, Affan. 1999. Politik Indonesia.Yogyakarta:Pustaka Pelajar
Nain, Sjafnir Abu. 1988. Kedudukandan Peranan Wanita. Jakarta:Depdikbud
Sajogyo, Pudjiwati. 1985. Sosial Pembangunan. Jakarta.:Fakultas pasca sarjana IKIP Jakarta
Mastenbroek. 1986. Penanganan Konflik dan Pertumbuhan Organisasi. Jakarta: UI-press
Handoyo, Eko ,Dkk. 2007. Studi Masyarakat Indonesia. Semarang: Fakultas Ilmu Sosial UNNES
Rauf, Maswadi. 2001. Konsensus dan Konflik Politik. Jakarta: Diretorat Jendral Pendidikan      Tinggi Departemen Pendidikan Nasional
Chabot. 1996. Kinship Status Gender. Belanda. KITLV Press
Wricht, Barbara Drygulski. 1998. Kiprah Wanita dalam Teknologi. Jakarta;Rosda Jayaputra
Lawang, Robert M.Z. 1986. Teori Sosiologi Klasik dan Modern Jilid II. Jakarta:Gramedia
Miall, Hugh. 2002. Resolusi Damai Konflik Kontemporer. Jakarta: PT. Raja Grafindo



0 komentar:

Poskan Komentar